@rygelth
Entah berapa kali wu souwei menggumamkan kata sial. seharusnya, dia tidak memilih untuk mempertahankan ego nya, melawan chi Cheng adalah pilihan yang buruk. jika saja dia memilih menurut dan pulang saat chi Cheng meminta dirinya tidak akan berakhir dikasur ini dengan deretan alat sex yang tergantung rapi disetiap dinding.
Dan wu suowei kembali melirik chi Cheng, dan sialnya prianya itu masih dalam suasana hati yang buruk, rokok yang Masih mengepul dan mata yang senantiasa menatap deretan alat sex yang sumpah demi tuhan wu suowei paling hindari. Dengan takut- takut dan mengumpulkan keberanian wu suowei mencoba setidaknya agar kekasih nya mau sedikit meluruhkan emosinya.
" Chi.. Cheng.. dengerin dulu deh , kamu kan tau Wang Zhen sama aku tuh gak ada apa-apa. Kita temen anjir , mau sampe kapan kamu gini." Dan lagi wu suowei lupa untuk seharusnya tidak lebih menyulut api kemarahan kekasihnya.
Chi Cheng masih diam dan hanya melirik sekilas wu suowei, setelah memutuskan alat mana yang akan dipakai untuk wu suowei, dirinya lantas menghampiri pria kecilnya, dan reaksi yang pertama kali dia lihat adalah bagaimana kekasihnya itu memundurkan tubuhnya seolah tengah berusaha lari darinya.
Maka tanpa pikir panjang chi Cheng menarik sebelah kaki wu suowei memastikan agar pria kecilnya itu tidak punya kesempatan untuk menghindar darinya.
" ANJINGGG CHI CHENG?!!! APAA SIH GUA TANYA LOH MALAH GAK DIJAWAB , Lepasin gak!??" Marah , kesal dan takut hanya itu yang Wu suowei bisa lakukan ditengah dirinya sibuk berusaha mempertahankan posisinya, ayolah bisa habis dirinya jika digauli chi Cheng dalam keadaan marah, chi Cheng adalah raja sex , dulu dia pernah digauli sampai jam 2 malam dan kejadian itu sukses membuat dirinya ambruk bahkan seminggu hanya berada dirumah hanya untuk pemulihan. Apa jadinya kalau dia sampai digagahi malam ini.
" Diem, nggak ada yang nyuruh kamu ngomong." setelah berhasil mengaitkan sebuah borgol pada kedua lengan wu suowei, chi Cheng mulai mengukung tubuh pria kecilnya , deru nafas keduanya saling bertautan, tatapan panik dan takut dari kelinci, dan tatapan buas penuh hasrat dari singa telak melingkupi ruang yang mereka senggami.
Chi Cheng tidak bisa berpikir jernih dirinya abai, dan membiarkan amarah melingkupi nya. Hanya wu suowei yang mampu membuat dirinya tak terkendali, mengetahui pria kecilnya berada dirumah yang sumpah demi apapun chi Cheng benci bahkan tidak memberi taunya lebih dulu, cukup untuk menyulut bara api dihatinya.
Maka dengan rasa amarah dan panas dihatinya chi Cheng meraup bilah bibir dihadapannya, ciuman terkesan kasar namun penuh hasrat itu membuat sosok dibawahnya tersentak.
Wu suowei bahkan tidak bisa memprediksi, bagaimana dirinya berakhir dengan ciuman kasar penuh tuntutan. Dan lagi dirinya tidak sempat menghindar karena chi Cheng membawa kedua tangannya ke atas kepalanya, mengunci dengan satu tangan miliknya.
Ciuman penuh tuntutan dan penuh hasrat itu sukses membuat wu suowei kewalahan. menggigit, terus meraup , lidah yang saling bertaut benar- benar membuat wu suowei harus mati-matian mengimbangi.
Lalu ketika dirasa pasokan udara mulai menipis, wu suowei mulai memberontak berharap chi Cheng menghentikan aksinya, dan benar saja chi Cheng menjauhkan dirinya , namun hanya untuk melihat raut wajah wu suowei yang tengah meraup udara seolah dirinya baru saja tenggelam di laut lepas.
Dengan mata yang berkaca-kaca wu suowei menatap pria yang masih setia mengukungnya, sungguh dirinya tidak tahan bukan karena perlakuan chi Cheng, tapi karena chi Cheng yang masih menganggap bahwa temannya memiliki perasaan lebih padanya.
"Hikss.. sumpah chi Cheng aku gak ada apa-apa sama Wang Zhen, udah aku bilang itu cuma dari game truth or dare, aku gak bohong hikss.." menangis, hanya itu yang wu suowei bisa lakukan, berharap kekasihnya mau mengerti bahwa dirinya tidak seperti apa yang dia pikirkan.
Dan tangisan wu suowei sukses mengembalikan sisi warasnya. maka chi Cheng menghela nafas, dirinya seolah tersadar setelah mendengar tangisan dan melihat bagaimana mata indah itu menangis, tidak itu bukan menangis karena nikmat yang biasa dia beri, tapi menangis karena ketakutan.
Maka chi Cheng berusaha melembutkan ekspresi nya, pun dirinya perlahan melepaskan borgol yang sedari tadi mengikat kedua tangan pria kecilnya. Mencium kedua pergelangan tangan wu suowei kemudian dia jatuhkan tubuhnya kesamping kekasihnya, hanya untuk memeluk dan memberi ketenangan.
" Aku cemburu Weiwei, aku nggak suka setiap kali tau kamu ada dirumah Wang Zhen." Chi Cheng sebisa mungkin melembutkan intonasi nya, bisa dirasakan wu suowei memeluk erat dirinya, menyembunyikan wajahnya di dadanya.
" aku beneran gak ada apa-apa sama Wang Zhen, ok aku salah karena ngebiarin dia nyium pipi aku , tapi itu bagian dari game chi Cheng"
Wu suowei hanya bisa memeluk erat chi Cheng, menangis karena itu adalah keahlian keduanya.
" Ok maaf sayang, maaf karena bikin kamu nangis, maaf karena udah bawa paksa kamu , maaf karena bikin kamu takut , yang pasti itu karena aku sayang , Weiwei aku beneran gamau kehilangan kamu , aku cuma mau kamu. sekarang tidur ya besok kita lanjut obrolin ini."
Jujur setiap kali mengingat kejadian itu rasanya chi cheng ingin kembali menghantamkan pukulan pada wajah teman pria kecilnya itu, tapi mengingat malam ini wu suowei menangis katakutan rasanya dirinya tidak tahan, itu jauh lebih menyakiti nya. Maka yang chi Cheng lakukan hanya berusaha memberikan ketenangan, mengelus punggung kekasihnya biarlah malam ini hasratnya mengalah, tapi lain kali dirinya akan betulan memakan pria kecil manisnya ini.