@daddiethv
“Ayang….”
Bula membuka pintu kamar dan menemukan pacarnya yang digulung selimut.
“Butuh ayang, sini ayang,” ujar Viar terdengar sangat menyedihkan. “Please, biarin aku nenen untuk terakhir kali karena aku udah sekarat.”
“Jangan ngomong gitu.” Bula menahan senyum melihat Viar dan drama kecilnya. “Kamu cuma demam.”
Bula naik ke kasur, Viar langsung ndusel ke leher pacarnya dan Bula menyentuh dahinya. “Masih anget, minum obat belum?”
“Obat aku itu kamu. Obat aku itu nenen kamu.” Viar semakin ndusel, tangannya mengurung tubuh Bula, memeluknya erat. Viar mengecup leher Bula kemudian wajahnya turun ke lekukan tulang selangka Bula.
“Hei,” Bula memperingatkan. “Lagi demam masih bisa sange.”
“Siapa yang sange?” Viar menggeleng. “Aku lagi cari obat.”
Lalu perlahan tangan Viar masuk ke kaus Bula, suhu tubuhnya membuat Bula mengernyitkan dahi saat kulit mereka bergesekan.
Bula membiarkan tangan pacarnya yang sedang demam itu untuk menggrepe badannya.
“Lepas aja beha-nya ya, ayang,” Viar berbisik. “Pasti engap.”
Bula memutar kedua bola matanya ketika dia merasakan jari-jari Viar di punggungnya. Viar menyeringai saat Bula pasrah.
“Kamu bilang tadi lemes,” sindir Bula saat Viar menaikan kausnya ke atas setelah melepaskan tali bra-nya.
“Lemes banget makanya mau nen.” Viar terkekeh tanpa dosa, membuka bibir dan mendekat ke depan puting Bula. Ia julurkan lidahnya untuk menjilat puting Bula. Gerakannya memutar, membuat Bula menghela napas.
“Viar,”
“Hmm?” Viar menatap Bula dari bawah dengan ekspresi seperti anak anjing. Memanipulasi Bula yang punya soft spot untuknya.
“Abis nen minum obat supaya demamnya reda, okay?”
“Iwni owbat akhu.” Viar menjawab tanpa menjauhkan bibirnya dari puting payudara Bula.
Bula menepuk lengan Viar. “Bandel banget.”
Viar hanya bergumam, lalu kembali menyedot puting Bula sambil memejamkan mata. Mau tidak mau Bula melunak, akhirnya mengusap-usap kepala Viar.
Lidah Viar yang biasanya hangat—namun sekarang tambah hangat karena demam—mengemut puting Bula. Saliva Viar membasahi kulitnya.
Lalu tangan Viar bergerak untuk membuka kedua kaki Bula, menyelinap di antara pahanya.
“Hei, mau ngapain?” Bula memperingatkan.
“Rileks.” Viar nyengir, bibirnya masih menempel dengan puting Bula yang kini semakin memerah karena dia kenyot.
Jari Viar naik untuk meraba dan mengusap bagian tengah Bula yang terhalang jeans lalu resletingnya ia turunkan.
“Tangan kamu panas,” kata Bula ketika telapak Viar masuk ke celana dalamnya.
Viar semakin menyenyot puting Bula lalu tangannya meremas memek Bula. “Tembem,” kekeh Viar.
“Jadi panas memek aku kamu pegang-pegang.”
“Jangan pelit.” Viar cemberut. “Aku lagi demam, tolong sayang-sayang.”
“Kamu bukan minta di sayang-sayang tapi kamu pengen grepe-grepe aku.”
Viar semakin terkekeh. Dia menyedot daging di bawah puting Bula sehingga memerah dan Bula berdesis saat jari tengah Viar dengan lancar masuk ke lubangnya.
“Ini memek kamu yang anget atau aku makin demam, Yang?” Viar mengoceh. Lidahnya terjulur untuk menjilati puting Bula.
“Keluarin jari kamu dari memek aku.” Bula protes.
Viar menggeleng, dia kembali menyedot puting payudara Bula yang mulai menegang. Jari telunjuknya di bawah sana bergerak lebih dalam seolah menggoda pacarnya.
“Kamu lagi demam, memek aku jadi anget.”
Viar menjawab, “Memek kamu selalu anget dan sempit, sayang. Gak ngaruh aku demam atau gak.”
Bula memutar bola matanya.
Viar mendorong semakin dalam di lubang Bula membuat pacarnya bereaksi namun bukan sindiran sinis tapi desahan kecil yang cantik. Viar menyeringai, mengecup seluruh dada Bula lalu kembali ke puting pacarnya sambil jarinya bermain di sana.
“Memek kamu selalu enak dikobelin,” kata Viar. “Gampang becek. Ini rasanya udah leleh padahal baru satu jari.”
“Berisik banget katanya lagi demam.”
“Iya demam makanya harus sambil nen dan colmekin kamu biar sembuh.”
Viar kembali mengulum dan menyedot puting payudara Bula sambil menambahkan satu jari lagi di lubang pacarnya.
“Ahh…. kenapa ditambahin jarinya?” Bula menggigit bibir bawahanya. “Tambah panas lubang aku rasanya.”
“Tambahin lagi berarti?” Viar mencoba memasukan 3 jari tapi lengannya ditepuk Bula. “Biar tambah enak, ayang.”
“Jangan, ahhh….”
“Jangan tapi mendesah, gemes banget pacarku.” Viar menggigit puting Bula membuat pemiliknya menjerit kecil. Viar lalu mengusap-usap payudara Bula dan berjanji akan main halus.
Bibirnya sih memang main halus, tapi jarinya di bawah sana mulai bergerak cepat.
“Ayang, ahhh,” Bula menunduk ke bawah, melihat jari pacarnya yang keluar masuk di lubangnya.
“Memek ayang sempit banget ih enak buat dikobel-kobel.” Viar terkekeh. “Makasih ya ayang udah mantep.”
Bula mau merespon namun Viar mendorong semua jarinya dan menghentakannya sangat dalam sehingga Bula melenguh dan refleks meremas rambut Viar yang berada tepat di depan dadanya. Mulut Viar yang hangat itu terus menggoda puting payudaranya dan jarinya menggali lubang Bula dengan cepat.
“Ayang ahhh ahhh~~~” Bula merapatkan kakinya karena permainan jari Viar membuatnya geli, dan pacarnya itu malah menggigit pentil nenennya membuat Bula semakin mendesah.
“Sayang stop,” Bula mencoba mendorong bahu Viar. “Aku takut pipis di kasur kamu.”
“Pipis aja, atau mau pipisin muka aku?” Viar menantang.
“Sumpah ya kamu lagi demam malah lebih sangean.”
“Memek pacar aku enak, gak mungkin aku gak sange.” Viar kembali mencolok lubang memek Bula dengan dua jarinya, sangat cepat dan tepat membuat Bula kelojotan namun Viar tidak peduli, dia malah semakin bergairah untuk membuat pacarnya klimaks.
Viar merasakan tarikan di rambutnya semakin kasar dan dia tahu itu tandanya Bula akan keluar sehingga jarinya semakin cepat keliar masuk di bawah sana bahkan tangannya yang satu lagi menampar perut bawah Bula tepat di depan memeknya membuat Bula menjerit.
“Fuck!!!”
Viar menyeringai, dia mengocok lebih cepat, tidak peduli Bula meringis dia hanya fokus menyodok lubang Bula dengan jarinya sampai dia merasakan jari-jarinya itu menghangat dan sesuatu meleleh datang dari lubang cantik itu.
“Huh banjir.” Viar mengeluarkan jarinya dari memek Bula dan langsung dia jilat. “Hmm, enak. Ini obat aku. Aku pasti langsung sembuh.”
Bula mencoba bernapas sambil geleng-geleng kepala. “Dasar nyebelin.”
“Tapi enak kan dicolmekin aku sambil nenennya aku kenyot?”
“Enak.”
Bula turun dari kasur untuk mengambil obat dan segelas air. “Minum obat yang bener, kalau demamnya turun kamu bisa ngentot aku tanpa kondom.”
“Deal.” Viar mengambil obat yang disodorkan Bula dan langsung meminum air satu gelas sampai habis.
[]