@horangrice
Karena besok hari Senin dan Jihoon milih buat langsung balik ke Jakarta, akhirnya disinilah kita berdua sekarang. Di dalam mobil gue, jam setengah 10 malam, menuju Jakarta.
Padahal nyokap bokap gue aja masih stay di Bandung malem ini, tapi entah kenapa Jihoon maksa banget buat balik malem ini juga ke Jakarta.
Oh iya, sebelum nikah, kita berdua udah sepakat bakalan tinggal di apart Jihoon. Awalnya nyokap mau gue sama Jihoon tinggal di rumah (yang diwarisin buat) gue yang ada di Kemang, tapi Jihoon kekeuh mau tetep di apartnya. "Sayang cicilannya udah setengah jalan."
Biar sama-sama enak, akhirnya Jihoon mau nggak mau harus setuju kalo sisa cicilannya gue yang lunasin. Padahal dia udah berekspektasi bisa beli kamar apartement nya pake uang jerih payahnya sendiri, tapi kalo kayak gitu masa iya gue cuma nebeng doang?
Gue bakalan tinggal disana mulai malam ini, karena pas Jihoon udah dipingit orang tuanya di Bandung, gue udah mindahin beberapa barang penting gue ke apartnya.
"Tidur aja kalo Jihoon ngantuk. Pasti tadi capek banget." Gue ngelirik Jihoon yang udah keliatan nggak kuat nahan ngantuknya, tapi mencoba buat tetep terjaga sepanjang jalan nemenin gue nyetir.
"Nggak kok, biasa aja." Dia memilih buat sibuk memainkan ponselnya. Terus gak lama senyumnya langsung merekah.
"Siapa?" Kata gue penasaran.
"Hmm? Apanya?"
"Itu... chat dari siapa? Kayak yang seneng banget."
"Oh ini... biasa dari anak-anak. Udah pada bawel. Katanya suruh cepet-cepet buka kado dari mereka, sampe pada niat naroh bagasi mobil lo biar gak ketinggalan."
"Apaan emang isinya?"
"Jangan diharepin, pasti aneh-aneh." Katanya, masih tersenyum memandang ponselnya.
"Jadi gak sabar." Balas gue sambil memacu mobil supaya kita berdua lebih cepat sampai di apart.
ㅡ
Terima kasih kepada tol layang, akhirnya gue bisa nyampe Jakarta lebih cepet dari biasanya. Jam 11 malem kita udah masuk ke dalam apart.
"Siapa yang mau mandi duluan?" Tanya Jihoon. Gue masih sibuk ngerapiin barang-barang yang kita bawa dari mobil.
"Jihoon aja, nanti gue pake kamar mandi luar."
"Hmm... oke." Dia langsung melenggang masuk ke dalam kamarnya, ninggalin gue yang masih menata rapi tumpukan kado dan tas ransel yang gue dan Jihoon bawa.
Sambil ngerapiin barang, gue merhatiin beberapa kado yang tadi dibawa dari mobil. Kado dari temen-temen deket Jihoon ternyata nggak cuma 1 tapi banyak. Ukurannya emang gak gede-gede sih. Bener kata Jihoon, gue jadi nggak terlalu ngarepin apa isinya. Soalnya mereka suka aneh-aneh.
Setelah selesai menata barang, gue langsung bergegas mandi.
ㅡ
"Loh, Jihoon nggak langsung tidur?" Tanya gue yang baru keluar kamar mandi, langsung nemuin dia di ruang tamu, lagi milihin beberapa kado yang mau dia buka.
"Bentar, kata Seokmin dia nyuruh buka kado punyanya dulu sebelum tidur."
"Emang isinya apaan?" Gue nyamperin dia, masih ngusap-ngusap rambut gue pake handuk.
"Nggak tau, dia nggak ngasih tau katanya suruh buka aja."
"Penting ya harus dibuka sekarang?"
Waktu Jihoon buka kadonya, ternyata isinya 1 dvd film Marvel terbaru. Kesukaan Jihoon. Kotaknya nipu, dikirain isinya Pizza. Soalnya bentuk kotaknya mirip kotak Pizza, dan dia nyuruh buat dibuka sekarang yang bikin gue mikir kalo itu beneran Pizza karna takut basi.
"Tolong kalo udah dibuka langsung ditonton sekarang juga. Ditontonnya berdua ya soalnya ini kado buat kalian berdua. Tertanda cinta, Seokmin." Ucap Jihoon waktu membaca pesan yang tertempel di depan case dvd.
"Mau nonton dulu? Jihoon besok masuk kerja loh, itu filmnya hampir 2 jam."
"Lo suka marvel?"
"Hmm... nggak terlalu sih, soalnya nggak ngikutin."
"Kok aneh, Seokmin bilang lo juga disuruh nonton. Emang dia nggak tau kalo lo bukan fans Marvel?"
Gue cuma menaikan kedua bahu gue, gak ngerti.
"Yaudah nonton bentaran aja deh, lagian gara-gara abis mandi gue jadi seger nggak ngantuk lagi. Siapa tau jadi ngantuk pas nonton." Ucapnya.
"Gue ambilin minuman dulu ya." Kata gue sambil berjalan ke arah kulkas. Mengambil 2 kaleng cola. Iya, soalnya cuma ada cola disitu.
Pas gue balik Jihoon malah ngebukain kado yang lainnya.
"Loh gak jadi nonton?"
"Lo aja yang setelin, gue mau buka kado sisanya." Ucapnya manja, gue langsung naroh 2 kaleng cola di atas meja, lalu beranjak ke arah tv, mengatur dvd yang akan kita tonton.
"Ini beneran dvd asli? Bukan bajakan? Kok kayak gembel banget ya wujudnya." Kata gue protes, lalu nunjukkin isi dvd nya setelah gue buka.
"Nggak tau, udah masukin dulu aja, coba disetel." Balasnya masih sibuk sama kado-kadonya.
"Hmm yauda."
Dvd udah masuk ke dvd player. Terus gue ambil remote yang ada di atas dvd player, mengatur volumenya.
"Kok gue curiga ya sama dvdnya." Kata gue.
"Emang kenapa?"
"Ya curiga aja, kayak ada yang aneh."
"Perasaan doang kali." Katanya, lalu menyingkirkan sisa bungkus kado yang tadi dia sobek. Merapikan mana yang menjadi sampah, mana yang akan disimpan.
Sekarang kita berdua udah natap layar tv yang udah 10 detik isinya gelap doang. Nggak ada gambar. Tapi nggak lama terdengar suara.
"Kok gue nggak inget ya awalnya ada suara ini. Gelap pula gambarnya." Kata Jihoon, lalu menaikan kontras layar tv. Tapi nihil, masih aja gelap.
"Bentar deh... kok suaranya kayak pernah denger." Kata gue mencoba memfokuskan pendengaran.
"Eh iya, gue juga kayak pernah denger. Pas subuh-subuh waktu tahun baru itu. Agak mirip."
"Jihoon juga denger waktu itu?" Tanya gue, dia pun mengangguk.
Saat kita mulai memfokuskan suara sambil terus memandang layar tv yang kontrasnya dinaikin sama Jihoon, kita berdua sama-sama ngejerit waktu tiba-tiba layar tv yang gelap tadi berubah jadi gambar 2 orang di atas kasur. Nggak tau itu siapa, gue gak kenal.
Yang bikin kita berdua kaget adalah.... mereka berdua.... nggak pake baju.
"Soon kok diem aja sih? Cari remote nya buruan... matiin... matiin.. aaaaa sialan mata gue bisa rusak ngeliatnya." kata Jihoon panik sambil mencari remote disekelilingnya, lalu gue berhasil nemuin remotenya dan mematikan dvd yang tadi gue setel.
"Si Seokmin bangsat, bisa-bisanya kirim dvd bokep buat kado nikahan gue." Suara umpatan keluar dari mulut Jihoon, setelah sekian lama nggak pernah gue denger lagi. Kali ini gue setuju sama Jihoon.
Emang bangsat si Seokmin.
ㅡ
Gue udah nenangin dia yang dari tadi ngomel-ngomel di telepon. Sekarang posisi kita udah di dalem kamar, Jihoon duduk bersila di atas kasur, gue duduk dipinggir kasur.
Jihoon masih memijat-mijat pelipisnya yang mungkin jadi pusing karena abis dipake buat ngomel-ngomelin Seokmin di telepon tadi.
"Udahan ya keselnya. Mau minum? Gue ambilin ya?" Tanya gue, terus dibalas dengan gelengan kepala.
"Gak usah."
"Mau tidur aja?"
"Lo tidur dimana?" Tanyanya.
"Terserah Jihoon. Kalo belum bisa nerima gue di kamar ini, gue bisa pake kamar sebelah dulu."
"Nggak usah, lo disini aja." Katanya, lalu membaringkan badannya sambil menutupinya dengan bed cover, bersiap untuk tidur.
"Buruan tidur, naik ke kasur. Udah malem." Suruhnya, dengan badan membelakangi gue yang masih duduk di pinggir kasur.
"Oke." Gue pun langsung menaikan 2 kaki gue, menutupi badan gue dengan bed cover yang Jihoon pakai juga.
Lampu kamar Jihoon udah dibikin gelap sedari tadi kita masuk kamar. Jihoon emang gak bisa tidur kalo sekelilingnya terang.
"Soon... udah tidur?" Tanyanya berbisik. Masih munggungin gue. Posisinya gue ada di sebelah kiri kasur dan dia ada di kanan. Dia tidur ngadep kanan dan gue juga ngadep kanan.
"Hmm... belum."
"Mau cerita nggak sebelum tidur?"
"Boleh. Tapi ngadep sini dulu." Kata gue. Akhirnya dia berbalik menghadap gue. Walaupun gelap, gue bisa liat semburat merah di kedua pipinya.
"Ah kalo hadep-hadepan gini gue gak bisa cerita." Katanya, langsung munggungin gue lagi.
"Emangnya mau cerita apaan?"
"Lo mau jujur nggak ke gue? Kalo mau, nanti gue juga jujur ke lo."
"Mau."
Dia diem sebentar. Gue pun nggak bersuara, masih nungguin pertanyaannya.
"Lo... udah ngapain aja sebelumnya sama Wonwoo?"
"Ngapain? Maksudnya?"
"Ya ngapain... selama pacaran, udah ngapain aja?"
"Nggak ngapa-ngapain. Ya kayak ngejalanin hidup biasa aja."
"Maksudnya... duh paham nggak sih Soon pertanyaan gue?" Katanya gemas, punggungnya terlihat bergetar. Lucu.
"Coba jelasin pake kata yang lebih spesifik. Ngapain tuh maksudnya berbuat apa?"
"Berbuat layaknya orang pacaran gituuuu..."
"Emang menurut Jihoon, orang pacaran ngapain aja?"
"Ya gitu..."
"Cuma anter jemput Wonwoo selama kuliah. Nemenin dia nugas, terus healing kalo udah penat sama tugas-tugasnya. Udah gitu aja."
"Seru ya... coba jaman kuliah dulu gue mau buka hati." Katanya lirih.
"Gak seru lah soalnya dulu pas Jihoon kuliah nggak ketemu gue. Nah sekarang baru ketemu deh. Kalo bisanya sekarang, kenapa harus berharap yang kemarin-kemarin?"
"Dih pede." Gue cuma tertawa pelan mendengar jawabannya.
"Lo pernah having sex nggak sih sebelumnya? Sama Wonwoo, atau yang lainnya..." katanya dengan suara pelan.
"Nggak. Wonwoo pacar pertama gue dan gue gak pernah having sex sama siapa-siapa. Kalo Jihoon?"
"Lo beneran nanya balik ke gue?" Gue langsung ketawa denger ucapannya. Emang kayak sarkas sih, pasti dia belum pernah juga.
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" Tanya gue bingung.
"Kenapa nggak pernah ngelakuin itu?"
"Ya nggak kepengen aja."
"Kenapa bisa nggak kepengen?"
"Ya karna..." Gue langsung berenti bicara, ragu melanjutkannya.
"Apa?"
"Gue punya trauma dan nggak tau kapan trauma ini bisa ilang."
Dia langsung membalikkan badannya, natap mata gue.
"Apa? Trauma apa? Kenapa gak cerita?"
Gue senyum tipis lalu membelai surai lembut Jihoon. "Nggak papa, emang gak mau cerita. Kalo nggak ditanya."
"Sekarang gue tanya, buruan jawab!"
"Udah lama sih kejadiannya. Gak tau juga ini termasuk pelecehan seksual atau bukan karna kejadiannya waktu gue masih SD dan emang pelakunya masih terhitung anak-anak juga. Mungkin karna kejadiannya dadakan dan terlalu cepat, gue jadi kaget dan refleks merasa malu lalu setelahnya kejadian itu selalu kebayang-bayang kalo keulang lagi."
Dia masih diem nungguin gue selesai bicara.
"Waktu lagi praktek renang, selesainya kita semua mandi dan ganti baju. Waktu gue lagi mandi, bilik gue di tendang dan otomatis gue yang saat itu nggak pake baju sehelai pun terekspos di depan temen-temen gue yang iseng. Mereka semua puas ngetawain dan mencemooh badan gue yang saat itu... agak gemuk. Dari situ gue trauma, gak mau lagi ada orang yang ngeliat gue tanpa busana.
Bohong kalo selama pacaran sama Wonwoo, dia nggak pernah minta buat ngelakuin itu. Dia selalu minta, tapi gue gak bisa ngasih. Gue juga gak cerita tentang trauma ini ke dia makanya dia mikir gue gak sepenuhnya sayang sama dia dan dia milih buat berpaling dari gue."
Selesai gue cerita panjang lebar, dia langsung ngedeketin badannya ke arah gue, mendekap gue .
"It's ok. Untung lo ketemu gue. Gue gak akan nuntut lo buat begitu, buat ngingetin lo sama trauma lo." Ucapnya dibalik pelukannya. "Gue... juga takut sebenernya. Kayaknya gue gak berani buat ngelakuin itu." Kini suaranya terdengar lirih.
"Lo nggak akan nyakitin gue kan?" Katanya lagi, gue pun menggeleng, langsung membalas pelukkannya menjadi lebih erat kemudian mencium puncak kepalanya.
"Nggak akan, Jihoon. Aku cuma bisa cinta sama Jihoon."
ㅡ