X以外のSNSでの投稿にはPrivatter+がおすすめです

Rutinitas Keluarga Higuchi (R18)

全体公開 1 7132文字
2022-08-27 01:38:02

Cerita tentang rahasia Higuchi Hina dan Adiknya

Posted by @eitokai18

Namaku Takuya, kelas 6 SD.

Kedua orang tuaku sudah meninggal karena kecelakaan, sekarang aku hanya tinggal berdua dengan Kakak. Kakakku sangat baik. Meski dia sibuk dengan pekerjaannya, tapi dia selalu membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Oh iya, kakakku adalah Higuchi Hina, seorang anggota grup idola Nogizaka46. Kakakku sangat cantik dan populer di lingkungan tempat kami tinggal.

“Pagi, Kak Hina,” kataku ketika tiba di dapur.

“Ah, pagi Takuya. Ayo, cepat duduk dan habiskan sarapannya. Nanti kamu terlambat,” seru Kak Hina. Seperti biasa, makanan buatan Kak Hina selalu enak. Setelah selesai sarapan, aku kembali ke kamar untuk berganti pakaian.



“Kak Hina, aku pergi dulu ya!” seruku. Belum sempat aku meninggalkan dapur, Kak Hina langsung menyetopku.

“Takuya, tunggu dulu. Ciuman buat Kakak mana? Kamu lupa ya?” kata Kak Hina sambil tersenyum. Dia kemudian berjongkok agar bisa menyamai tinggiku.



“Oh iya, aku lupa!” kataku. Kemudian aku memejamkan mata dan memajukan bibirku. Kak Hina langsung melumat bibirku. Ciuman Kak Hina seperti mengisap bibirku. Toket Kak Hina yang besar menekan-nekan dadaku. Rasanya kenyal dan lembut, seperti balon yang diisi air. Lidah Kak Hina juga menyeruak masuk ke mulutku. Sambil berciuman, Kak Hina menjulurkan tangannya ke bagian bawah tubuhku.

“Hm? Takuya, tititmu kok ngaceng? Fufufu, sebelum berangkat, mau Kakak coliin dulu sampai keluar?” tanya Kak Hina.

“Hehehe, mau.”

“Kalau begitu, ayo buka celananya. Nanti kelamaan malah telat ke sekolahnya.”

Aku langsung melepas celanaku, lalu menyodorkan tititku yang sudah tegang ke arah Kak Hina. Kak Hina lalu menggenggam tititku, lalu mulai mengocoknya secara perlahan. Sambil menikmati kocokan tangan Kak Hina, aku membenamkan wajahku ke toketnya yang besar dan kenyal itu. Kak Hina hanya tersenyum sambil membelai-belai kepalaku dengan tangan kanannya, sementara yang kiri terus mengocok tititku.



“Fufufu, Takuya tuh suka banget ya sama toket Kakak.”

“Habisnya wangi dan kenyal💕,” seruku sambil menggosok-gosokkan wajahku ke toket Kak Hina.

“Ahn, dasar nakal. Kakak bales ya,” seru Kak Hina. Dia kemudian mempercepat kocokan tangannya di tititku.

“Ah! Ah! Kakak! Kakak!💕 Terushh!💕”

“Ayo, udah mau keluar? Jangan ditahan, sini keluarin semua peju kamu ke Kakak,” Kak Hina berbisik di telinga dengan suaranya yang manja.

“Ah! Aku ngecrot, Kak!💕” teriakku. Pejuku langsung muncrat dan mengenai baju Kak Hina. Sebagian menempel di tangannya.

“Seperti biasa ya, pejunya Takuya selalu banyak banget,” ujar Kak Hina sambil mengambil tisu di meja dan membersihkan peju yang ada di tangannya. Dia juga dengan telaten membersihkan peju yang masih ada di ujung tititku.



“Habisnya kocokan Kak Hina mantep banget,” seruku sambil tertawa.

“Ya sudah, sana pakai lagi celananya. Nanti terlambat.”

“Baik. Ah, Kakak hari ini pulang jam berapa?”

“Hm... hari ini sepertinya Kakak pulang cepat. Kenapa?”

“Yes! Kalau begitu, pas pulang nanti kita ngentot ya, Kak?”

“Fufufu, dasar. Baiklah, malam ini Kakak bakal bikin kamu crot lebih banyak lagi.”

“Yes! Ya sudah, aku berangkat dulu ya, Kak!”

“Iya, hati-hati di jalan ya.”

Aku berangkat sekolah dengan semangat setelah dikocok Kak Hina sampai keluar tadi. Begitulah rutinitas pagi keluarga kami.

***

Pada malam harinya, setelah selesai makan malam, aku dan Kak Hina pergi mandi bersama. Meski bak mandinya terasa sempit, aku nggak masalah. Apalagi karena di depanku ada toket Kak Hina yang besar dan kenyal seperti kue mochi. Melihat sebagian toket itu menyembul di permukaan air membuat tititku kembali tegang. Rupanya tititku yang sudah tegang setengah mati itu menusuk-nusuk perut Kak Hina.



“Takuya, dari tadi kamu selalu ngeliatin toket Kakak terus. Udah gitu titit kamu juga udah ngaceng begini. Sini, titit kamu Kakak jepit pake toket Kakak yang jadi kesukaan kamu💕.”

Begitu tititku dijepit oleh kedua toket Kak Hina, rasanya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kak Hina mulai menggerakkan toketnya naik dan turun. Tititku seolah ditelan oleh belahan toket milik Kak Hina.

“Ara, tititnya Takuya ngintip dari belahan toket Kakak💕,” seru Kak Hina. Dia menjulurkan lidah dan menjilat ujung tititku setiap kali ujung tititku menyembul dari belahan toketnya. Dikocok dengan toket Kak Hina, ditambah jilatan lidah dan suasana di kamar mandi membuat kepalaku mulai berputar-putar saking nikmatnya.



“Ha... haa.... Kak Hina! Kak Hina!💕”

Sambil terus dijepit dengan toketnya, Kak Hina mempercepat gerakannya. Percikan air terdengar setiap kali toketnya memukul permukaan tanah.

“Haa! Haa! Kak Hina!! Aku ngecrot, Kak!!💕”

Aku menyemburkan peju tanpa bisa ditahan. Semburannya mengenai wajah dan toket Kak Hina. Kak Hina mencolek sisa-sisa peju yang menempel di wajah dan toketnya, lalu memasukkannya ke mulut. Dia juga menjilati seluruh bagian tititku, termasuk bijiku. Kak Hina suka sekali menjilat ujung tititku, aku juga suka setiap kali lidahnya menyapu ujung tititku. Setelah kami selesai membersihkan diri, kami keluar dari kamar mandi. Setelah itu, tanpa memakai apa-apa, kami langsung menuju kamar Kak Hina.

Di dalam kamar, Kak Hina mengeluarkan sekotak kondom dari laci mejanya. Kemudian, dia membuka satu bungkus dan memasangkan kondom itu padaku. Setelah terpasang, Kak Hina kemudia berbaring dan membuka lebar kakinya, memperlihatkan memeknya yang mulai basah.



“Kakak, aku udah nggak tahan....💕”

“Ufufu, sini, Sayang.💕”

“Kakak, aku masukin ya....💕”

“Iya, entot Kakak, Sayang💕.”

Meski tititku memakai kondom, aku masih bisa merasakan hangat dan basahnya memek Kak Hina. Setiap kali aku menusukkan tititku ke dalam, tititku rasanya semakin besar. Melihat toket Kak Hina yang berguncang-guncang membuatku sangat bernafsu. Aku segera membenamkan wajahku ke belahan toketnya, bergantian mengisap pentil mungil merah muda yang tegang seperti bayi. Dinding memek Kak Hina seolah menjepit tititku. Aku menggoyang pinggulku sekuat tenaga.

“Teruss!! Ahn! Terusss entot Kakak, Sayang,💕” seru Kak Hina.

“Ah! Ah! Kak Hina!!💕”



Aku mulai merasa batasku semakin dekat. Kupercepat gerakan pinggulku dalam menusuk memek Kak Hina, tak lama kemudian....

“Ah! Kak Hina, aku ngecrott!!💕”

Aku langsung memuncratkan pejuku di dalam kondom. Tititku terus bergetar selama proses tersebut selama lebih dari 10 detik. Setelah selesai, aku langsung menarik tititku, lalu melepaskan kondom yang dipenuhi peju dan memberikannya pada Kak Hina. Kak Hina menggigit kondom bekas itu seperti biasa. Aku kembali memasang kondom kedua dan kembali menggenjot Kak Hina. Sampai kondomnya habis, aku mengentot Kak Hina dalam berbagai posisi, setiap kali selesai aku memberikan kondom bekasnya pada Kak Hina.



Setelah benar-benar habis, aku memfoto Kak Hina yang berbaring telanjang dengan kondom bekas berserakan di sekitarnya.

Begitulah rutinitas malam keluarga kami.

-selesai-







投稿にいいねする


© 2026 Privatter All Rights Reserved.